kekayaan turun rp430 triliun mark zuckerberg kini peringkat 12 orang terkaya dunia

Kekayaan Hilang Rp430 Triliun, Mark Zuckerberg Jadi Peringkat 12 Orang Terkaya Dunia

New York Time – Kekayaan Mark Zuckerberg tercatat turun drastis sebesar USD 30 miliar atau sekitar Rp430 triliun pada Kamis (3/2). Ini terjadi karena saham Meta Platforms Inc mencatatkan rekor penurunan tertinggi satu hari, menyusul perkiraan perolehan laba mengecewakan yang mengguncang lanskap saham teknologi global.

Saham Meta terjun bebas 26 persen, nilainya turun lebih dari USD 200 miliar dalam penghapusan nilai pasar satu hari terbesar yang pernah ada untuk sebuah perusahaan AS. Itu menurunkan kekayaan bersih pendiri dan Chief Executive Officer Zuckerberg menjadi USD 85 miliar, menurut Forbes.

Penurunan kekayaan Zuckerberg dalam satu hari merupakan terbesar yang pernah ada dan terjadi setelah kerugian satu hari bos Tesla Inc senilai USD 35 miliar pada November. Elon Musk, orang terkaya di dunia, kemudian mensurvei pengguna Twitter apakah dia harus menjual 10 persen sahamnya di pembuat mobil listrik. Saham Tesla belum pulih dari aksi jual yang diakibatkannya.

Setidaknya 21 broker memangkas target harga di Meta setelah perusahaan memposting proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan pada Rabu (2/2), menyalahkan perubahan privasi Apple Inc dan meningkatnya persaingan untuk pengguna dari saingan termasuk TikTok dan YouTube.

Setelah kehilangan kekayaan hampir USD 30 miliar, Zuckerberg berada di tempat 12 dalam daftar miliarder real-time Forbes, di bawah mogul bisnis India Mukesh Ambani dan Gautam Adani.

Yang pasti, perdagangan saham teknologi tetap bergejolak karena investor berjuang untuk memperhitungkan dampak inflasi yang tinggi dan perkiraan kenaikan suku bunga. Saham Meta bisa pulih lebih cepat, dengan pukulan terhadap kekayaan Zuckerberg tetap di atas kertas.

Zuckerberg menjual saham Meta senilai USD 4,47 miliar tahun lalu, sebelum kekalahan teknologi 2021. Penjualan saham dilakukan sebagai bagian dari rencana perdagangan 10b5-1 yang telah ditentukan sebelumnya, yang digunakan para eksekutif untuk menghilangkan kekhawatiran tentang perdagangan orang dalam (insider trading).

Sumber : merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Exit mobile version